![]() |
Mantan Ketua MK, Mahfud MD |
Dakwahinformasi - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD menilai ada gerakan ingin mengacaukan pemilu yang akan berlangsung pada 17 April mendatang. Dijelaskannya, gejala di tengah masyarakat saat ini ada empat level gerakan yang berupaya merusak kredibilitas Komisi Pemilihan Umum (KPU).
"Level yang paling tinggi adalah yang ingin menggagalkan," tutur mantan ketua MK itu dalam sambungan seluler dalam wawancara di Kompas TV, Jum'at (22/2/2019) pagi
Dia melanjutkan, level upaya menggagalkan Pemilu bisa berupa tindakan kriminal untuk membuat situasi kacau. Seperti ada ledakan saat debat Capres.
Kemudia merajalelanya berita bohong atau hoax menjelang Pemilu juga termasuk dalam level yang disebut Mahfud MD.
"Kabar hoax terkait pergantian Ma'ruf Amin dengan Basuki Tjahaja Purnama yang jelas-jelas tidak mungkin terjadi karena ada Undang-Undangnya," jelasnya.
Selanjutnya level yang ketiga, yaitu tindakan-tindakan yang bertentangan dengan akal sehat. Seperti KPU dikatakan sebagai antek dan didikte pemerintah.
"Padahal pemerintah tidak pernah menyentuh KPU, yang buat KPU itu dulu kan DPR. Mereka pilih sendiri kemudian dituduh KPU diminta pemerintah untuk kasih kisi-kisi. Setelah dibuka ternyata kedua belah pihak yang meminta agar kisi-kisi debat itu dibuat. Setelah keduanya yang minta keduanya sama-sama malu," ungkapnya.
Menurutnya, Pemilu adalah pesta demokrasi yang seharusnya berlangsung nyaman, aman dan damai. Bukan pesta yang mengerikan.
"Nah ini sekarang ini banyak teror-teror, saling mengkafirkan orang, menyalahkan, menganggap orang lain dihadapi adalah musuh. Oleh sebab itu saya berbicara ke masyarakat, ayolah Indonesia bisa jadi emas tapi kita harus bersatu," jelas Mahfud MD.
Mahfud MD berharap Indonesia bisa ciptakan demokrasi damai, untuk menjadikan bangsa Indonesia emas, dengan menghargai siapa yang menang dan kembali berpelukan bersama.
Sumber: Tribunnews